Weton, wuku, pawukon merupakan istilah yang sering ditemukan ketika seseorang mempelajari kalender Jawa. Ketiganya berhubungan dengan perhitungan waktu, tetapi mempunyai arti dan fungsi yang berbeda.
Weton menunjukkan gabungan hari biasa dengan pasaran Jawa. Wuku adalah nama pekan dalam sebuah siklus, sedangkan pawukon merupakan susunan lengkap yang terdiri dari 30 wuku.
Weton adalah gabungan hari biasa dan pasaran Jawa. Wuku adalah nama pekan yang berlangsung selama tujuh hari. Pawukon adalah siklus penanggalan selama 210 hari yang terdiri dari 30 wuku.
Satu tanggal dapat mempunyai weton dan wuku sekaligus. Sebagai contoh, seseorang dapat lahir pada weton Jumat Legi, sedangkan tanggal kelahirannya juga berada dalam wuku Sinta, Landep, Wayang, atau salah satu wuku lainnya.
Memahami perbedaan tersebut membantu kita membaca kalender Jawa dengan lebih mudah. Pembahasan dasarnya dapat dilanjutkan melalui apa itu weton Jawa dan kalender Jawa lengkap.
Apa Itu Weton?
Weton adalah gabungan antara hari biasa dan pasaran Jawa.
Hari biasa terdiri dari:
- Senin.
- Selasa.
- Rabu.
- Kamis.
- Jumat.
- Sabtu.
- Minggu atau Ahad.
Pasaran Jawa terdiri dari:
- Legi.
- Pahing.
- Pon.
- Wage.
- Kliwon.
Sebagai contoh, Jumat Legi berarti hari Jumat yang bertepatan dengan pasaran Legi. Senin Pon berarti hari Senin dengan pasaran Pon.
Pertemuan antara tujuh hari dan lima pasaran membentuk perulangan selama 35 hari. Setelah 35 hari, gabungan hari dan pasaran yang sama akan muncul kembali.
Weton sering digunakan untuk mengenali hari kelahiran. Dalam sebagian tradisi keluarga Jawa, weton juga digunakan sebagai salah satu dasar perhitungan adat.
Untuk mengetahui weton kelahiran, pembaca dapat memakai cek weton online, mempelajari cara menghitung weton Jawa, atau melihat tabel neptu hari dan pasaran.
Apa Itu Wuku?
Wuku adalah nama untuk satu bagian waktu yang berlangsung selama tujuh hari.
Jika kalender biasa memiliki pekan pertama, pekan kedua, dan pekan ketiga, pawukon mempunyai pekan yang diberi nama. Nama-namanya antara lain Sinta, Landep, Wukir, Kuningan, Wayang, dan Watugunung.
Setelah satu wuku berlangsung selama tujuh hari, perhitungan dilanjutkan ke wuku berikutnya. Urutannya terus berjalan sampai wuku ke-30 selesai.
Wuku bukan nama hari dan bukan nama pasaran.
Perhatikan contoh berikut:
- Senin adalah nama hari.
- Legi adalah nama pasaran.
- Senin Legi adalah weton.
- Sinta adalah nama wuku.
Dengan demikian, seseorang tidak tepat menyebut Sinta Legi sebagai nama weton. Sinta merupakan wuku, sedangkan Legi merupakan pasaran.
Pembahasan khusus dapat dibaca melalui apa itu wuku dalam kalender Jawa dan cara mengetahui wuku kelahiran.
Pawukon Artinya Apa?
Banyak pembaca bertanya, pawukon artinya apa?
Pawukon adalah sistem penanggalan atau perhitungan waktu yang memakai urutan wuku. Nama pawukon berkaitan dengan kata wuku karena sistem ini dibentuk oleh rangkaian wuku.
Satu wuku berlangsung selama tujuh hari. Seluruh susunan pawukon terdiri dari 30 wuku.
Perhitungannya adalah:
30 wuku × 7 hari = 210 hari
Jadi, satu putaran pawukon berlangsung selama 210 hari. Setelah wuku terakhir selesai, urutan kembali lagi ke wuku pertama. Keraton Yogyakarta juga menjelaskan adanya 30 wuku yang masing-masing berumur tujuh hari, sehingga satu putarannya berjumlah 210 hari.
Siklus pawukon tidak sama dengan satu tahun Masehi. Satu tahun Masehi berlangsung sekitar 365 hari, sedangkan satu putaran pawukon hanya 210 hari.
Pelajari lebih lanjut melalui pengertian pawukon dan siklus 210 hari pawukon.
Pawukon Ada Berapa Wuku?
Pawukon ada berapa wuku?
Jawabannya, satu siklus pawukon terdiri dari 30 wuku. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari.
Perhitungannya:
30 × 7 = 210 hari
Jumlah wuku dalam pawukon tetap 30 dalam susunan dasarnya. Siklus dimulai dari wuku Sinta dan ditutup oleh wuku Watugunung. Setelah Watugunung selesai, urutannya kembali ke Sinta.
Nama beberapa wuku dapat ditulis dengan ejaan berbeda dalam sumber Jawa dan Bali. Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah karena dapat dipengaruhi bahasa, kebiasaan penulisan, dan daerah asal kalender.
Daftar 30 Wuku dalam Pawukon

Berikut urutan 30 wuku. Kolom utama menggunakan nama yang umum dijumpai dalam sumber Jawa, sedangkan variasi dalam tanda kurung banyak digunakan dalam sumber Bali atau sumber lain.
| Nomor | Nama Wuku | Variasi Nama atau Ejaan |
|---|---|---|
| 1 | Sinta | Sita |
| 2 | Landep | Landhep |
| 3 | Wukir | Ukir |
| 4 | Kurantil | Kulantir atau Kilantir |
| 5 | Tolu | Tulu atau Taulu |
| 6 | Gumbreg | Gumbereg |
| 7 | Warigalit | Wariga |
| 8 | Warigagung | Warigadian atau Warigadean |
| 9 | Julungwangi | Julung Wangi |
| 10 | Sungsang | Sungsang |
| 11 | Galungan | Dungulan atau Dunggulan |
| 12 | Kuningan | Kuningan |
| 13 | Langkir | Langkir |
| 14 | Mandasiya | Medangsia atau Madasih |
| 15 | Julungpujut | Pujut |
| 16 | Pahang | Pahang |
| 17 | Kuruwelut | Krulut atau Kuruwulut |
| 18 | Marakeh | Merakih atau Marakih |
| 19 | Tambir | Tambir |
| 20 | Medangkungan | Madangkungan |
| 21 | Maktal | Matal atau Mahatal |
| 22 | Wuye | Uye atau Wuyai |
| 23 | Manahil | Menail atau Menial |
| 24 | Prangbakat | Prangbakat |
| 25 | Bala | Bala |
| 26 | Wugu | Ugu |
| 27 | Wayang | Wayang |
| 28 | Kulawu | Klawu atau Kelawu |
| 29 | Dukut | Dukut |
| 30 | Watugunung | Watu Gunung |
Urutan tersebut menunjukkan mengapa sumber Jawa dan Bali terkadang terlihat berbeda. Misalnya, wuku ke-11 lazim disebut Galungan dalam sejumlah sumber Jawa, tetapi dikenal sebagai Dungulan dalam kalender Bali.
Buku pendidikan agama Hindu dari Kementerian Pendidikan juga mencantumkan 30 wuku dengan bentuk ejaan Bali, dimulai dari Sita dan diakhiri Watugunung.
Pembahasan arti dan gambaran tradisional setiap wuku dapat ditempatkan pada daftar 30 wuku dan artinya dan watak berdasarkan wuku kelahiran.
Wuku Pertama dalam Pawukon
Wuku pertama dalam pawukon adalah Sinta.
Sinta menjadi awal rangkaian 30 wuku. Setelah tujuh hari dalam wuku Sinta selesai, perhitungan berlanjut ke Landep.
Urutannya kemudian terus berjalan sampai wuku Watugunung. Sesudah Watugunung berakhir, siklus kembali lagi ke Sinta.
Dalam penulisan Bali, nama Sinta juga dapat dijumpai dalam bentuk Sita. Perbedaannya merupakan variasi nama, bukan perbedaan urutan.
Baca selengkapnya melalui arti wuku Sinta.
Wuku Terakhir dalam Sistem Pawukon Disebut Wuku Apa?
Wuku terakhir dalam sistem pawukon disebut wuku apa?
Jawabannya adalah Watugunung.
Watugunung merupakan wuku ke-30 dan menjadi penutup siklus 210 hari. Setelah tujuh hari dalam wuku Watugunung selesai, susunan kembali dimulai dari wuku Sinta.
Wuku ke-29 adalah Dukut. Karena itu, Dukut tidak boleh disebut sebagai wuku terakhir.
Cerita yang berhubungan dengan bagian akhir siklus dapat dibaca melalui arti wuku Watugunung dan cerita Watugunung dalam pawukon.
Hubungan Weton, Wuku, dan Pawukon
Weton, wuku, dan pawukon dapat muncul dalam satu tanggal yang sama.
Hubungannya dapat dilihat melalui tabel berikut:
| Istilah | Pengertian | Lama Siklus |
|---|---|---|
| Hari | Senin sampai Minggu | 7 hari |
| Pasaran | Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon | 5 hari |
| Weton | Gabungan hari dan pasaran | Berulang 35 hari |
| Wuku | Nama satu pekan dalam pawukon | 7 hari |
| Pawukon | Rangkaian 30 wuku | 210 hari |
Sebagai contoh, sebuah tanggal dapat mempunyai keterangan berikut:
- Hari: Jumat.
- Pasaran: Legi.
- Weton: Jumat Legi.
- Wuku: Wayang.
Weton menjawab pertanyaan, “Hari dan pasarannya apa?”
Wuku menjawab pertanyaan, “Tanggal tersebut berada dalam pekan wuku apa?”
Sementara itu, pawukon adalah seluruh susunan yang menempatkan wuku tersebut di dalam putaran 210 hari.
Kalender Jawa dapat memuat beberapa siklus secara bersamaan, termasuk siklus tujuh hari, pasaran lima hari, wetonan 35 hari, dan pawukon 210 hari.
Perbedaan Weton dan Wuku
Weton dan wuku bukan istilah yang sama.
| Weton | Wuku |
|---|---|
| Gabungan hari dan pasaran | Nama pekan dalam siklus pawukon |
| Berulang setiap 35 hari | Kembali pada posisi yang sama setiap 210 hari |
| Contoh: Jumat Legi | Contoh: Sinta, Wayang, atau Watugunung |
| Sering digunakan untuk mengenali hari kelahiran | Menunjukkan posisi pekan dalam pawukon |
Misalnya, seorang anak lahir pada Senin Kliwon dalam wuku Kuningan.
Senin Kliwon adalah wetonnya. Kuningan adalah nama wukunya.
Karena itu, jangan menyebut Kuningan Kliwon sebagai weton. Kuningan dalam contoh tersebut merupakan wuku.
Perbedaan Wuku dan Pawukon
Wuku adalah satu bagian, sedangkan pawukon adalah seluruh susunannya.
Wuku dapat diibaratkan sebagai satu bab dalam sebuah buku. Pawukon adalah buku yang berisi 30 bab tersebut.
Perumpamaan lain, wuku adalah satu pekan yang mempunyai nama. Pawukon adalah rangkaian seluruh pekan bernama itu.
Jadi, ketika seseorang bertanya “pawukon ada berapa?”, jawaban yang lebih jelas adalah:
Satu siklus pawukon terdiri dari 30 wuku dan berlangsung selama 210 hari.
Cara Mengetahui Wuku Berdasarkan Tanggal
Wuku kelahiran tidak dapat diketahui hanya dengan melihat angka tanggal. Tanggal tersebut harus dicocokkan dengan siklus pawukon.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan.
Melihat Kalender Jawa atau Bali
Sejumlah kalender mencantumkan hari, pasaran, dan nama wuku.
Carilah tanggal yang ingin diperiksa. Setelah itu, lihat nama wuku yang tercantum pada pekan tersebut.
Menggunakan Kalkulator Pawukon
Kalkulator pawukon dapat membantu mencari wuku berdasarkan tanggal, bulan, dan tahun.
Pengguna cukup memasukkan tanggal lengkap. Sistem kemudian mencocokkannya dengan urutan 210 hari.
Namun, hasilnya perlu diperiksa kembali apabila akan digunakan untuk keperluan adat atau keagamaan.
Bertanya kepada Orang yang Memahami Penanggalan
Sesepuh keluarga, guru budaya, pemangku adat, atau orang yang memahami kalender tradisional dapat membantu memeriksa wuku.
Untuk kebutuhan keagamaan Hindu, pemeriksaan sebaiknya mengikuti kalender dan panduan tokoh agama yang digunakan oleh masyarakat setempat.
Membandingkan Dua Sumber
Perbandingan diperlukan apabila dua kalender menampilkan ejaan berbeda.
Pastikan perbedaannya hanya pada penulisan nama, bukan pada urutan atau tanggal yang dihitung.
Gunakan cek wuku berdasarkan tanggal lahir, kalkulator pawukon online, dan kalender Jawa hari ini sebagai internal link.
Apa Hubungan Pawukon dengan Kalender Jawa?
Pawukon merupakan salah satu siklus waktu yang dikenal dalam penanggalan Jawa.
Namun, pawukon berbeda dari tahun Jawa yang memakai bulan seperti Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, dan seterusnya.
Pawukon tidak berjalan berdasarkan 12 bulan. Sistemnya memakai susunan 30 wuku yang terus berputar setiap 210 hari.
Satu tanggal dalam kalender Jawa dapat mempunyai beberapa keterangan sekaligus, seperti:
- Hari biasa.
- Pasaran.
- Tanggal Jawa.
- Bulan Jawa.
- Tahun Jawa.
- Wuku.
Karena itu, tanggal yang sama dapat disebut Senin Legi, berada pada bulan Sura, dan termasuk dalam salah satu wuku tertentu.
Pawukon dalam Tradisi Jawa dan Bali
Pawukon dikenal dalam kebudayaan Jawa dan Bali. Namun, penggunaan dan penulisannya tidak selalu sama.
Dalam tradisi Jawa, pawukon dikenal sebagai ilmu perhitungan wuku. Wuku dapat dikaitkan dengan hari kelahiran, pembacaan tradisional mengenai watak, serta pemilihan waktu menurut adat.
Keraton Yogyakarta menjelaskan wuku sebagai periode waktu dalam penanggalan Jawa, sedangkan ilmu perhitungannya disebut pawukon.
Dalam tradisi Bali, pawukon digunakan bersama sistem wewaran dan mempunyai peran kuat dalam menentukan waktu berbagai kegiatan adat serta keagamaan. Kalender Pawukon Bali juga memakai 30 wuku dan siklus 210 hari, tetapi variasi ejaan nama wukunya dapat berbeda dari bentuk Jawa.
Perbedaan tersebut perlu dihormati. Jangan menganggap seluruh istilah, upacara, atau aturan di Jawa dan Bali selalu sama.
Pelajari lebih lanjut melalui perbedaan pawukon Jawa dan Bali dan wewaran dalam kalender Bali.
Hari Suci Agama Hindu yang Dirayakan Berdasarkan Pawukon atau Wuku
Beberapa hari suci agama Hindu yang dirayakan berdasarkan pawukon atau wuku ditentukan melalui pertemuan hari dalam wewaran dengan wuku tertentu.
Berikut beberapa contohnya.
Hari Raya Galungan
Hari Raya Galungan berlangsung pada Buda Kliwon Wuku Dungulan dalam kalender Bali.
Buda berarti Rabu, Kliwon merupakan bagian dari siklus lima hari, sedangkan Dungulan adalah nama wuku ke-11. Dalam beberapa sumber Jawa, wuku Dungulan disebut Galungan.
Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan berlangsung pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
Saniscara berarti Sabtu. Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan dan menjadi bagian dari rangkaian perayaannya.
Hari Saraswati
Hari Saraswati diperingati pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung.
Perayaan ini hadir setiap satu putaran pawukon atau 210 hari. Dalam ajaran Hindu Bali, Saraswati berkaitan dengan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Hari Pagerwesi
Hari Pagerwesi diperingati pada Buda Kliwon Wuku Sinta.
Perayaannya juga berulang setiap 210 hari. Pagerwesi memiliki makna yang berkaitan dengan penguatan dan perlindungan batin.
Tumpek Wayang
Tumpek Wayang berlangsung pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang.
Hari suci tersebut merupakan salah satu rangkaian Tumpek yang datang setiap 210 hari menurut kalender pawukon.
Tidak semua hari suci Hindu ditentukan melalui pawukon. Sebagian hari suci memakai perhitungan lain, termasuk perhitungan sasih atau bulan dalam kalender Saka Bali.
Karena itu, pawukon tidak boleh disamakan dengan seluruh kalender keagamaan Hindu. Penentuan waktu ibadah juga bukan ramalan atau pencarian hari keberuntungan.
Gunakan hari suci Hindu berdasarkan pawukon, Hari Saraswati Wuku Watugunung, Hari Raya Galungan dan Wuku Dungulan, serta Tumpek Wayang dalam kalender Bali sebagai internal link.
Mengapa Siklus Pawukon Berjumlah 210 Hari?
Perhitungannya sederhana:
- Terdapat 30 wuku.
- Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari.
- Tiga puluh dikalikan tujuh menghasilkan 210.
Rumusnya:
30 wuku × 7 hari = 210 hari
Setelah 210 hari, susunan kembali ke awal. Watugunung kembali diikuti oleh Sinta.
Angka 210 bukan panjang satu tahun Masehi. Angka tersebut juga bukan panjang satu tahun Jawa yang memakai perhitungan bulan.
Pawukon lebih tepat disebut sebagai siklus yang terus berulang.
Apakah Wuku Sama dengan Zodiak?
Wuku kadang dibandingkan dengan zodiak karena keduanya dapat dikaitkan dengan gambaran watak dan waktu kelahiran.
Namun, keduanya bukan sistem yang sama.
Zodiak yang umum dikenal terdiri dari 12 bagian dan berkaitan dengan putaran tahunan. Pawukon terdiri dari 30 wuku dan berulang setiap 210 hari.
Karena itu, menyebut wuku sebagai zodiak Jawa hanya dapat digunakan sebagai perumpamaan sederhana. Penjelasan tersebut tetap harus disertai keterangan bahwa dasar dan susunannya berbeda.
Apakah Wuku Dapat Menentukan Watak?
Menurut tradisi tertentu, setiap wuku mempunyai gambaran sifat, lambang, dan nasihat tersendiri.
Seseorang yang lahir pada wuku tertentu dapat diberi gambaran umum mengenai kebiasaan atau kecenderungan wataknya. Namun, gambaran tersebut bukan kepastian.
Watak seseorang juga dipengaruhi oleh:
- Keluarga.
- Pendidikan.
- Lingkungan.
- Pengalaman.
- Kebiasaan.
- Pilihan dalam menjalani kehidupan.
Wuku sebaiknya dipahami sebagai pengetahuan tradisional, bukan alat untuk menilai seseorang secara mutlak.
Pembahasan khusus dapat diarahkan ke watak berdasarkan 30 wuku dan arti wuku kelahiran.
Manfaat Mempelajari Weton, Wuku, dan Pawukon
Mempelajari sistem penanggalan ini dapat membantu kita:
- Mengenal kalender tradisional.
- Mengetahui hari dan pasaran kelahiran.
- Memahami susunan 30 wuku.
- Membaca kalender Jawa dan Bali.
- Mengenali latar waktu sebuah tradisi.
- Memahami naskah atau catatan lama.
- Menjaga pengetahuan budaya.
- Menghindari kekeliruan antara weton dan wuku.
Pengetahuan tersebut tidak menjamin seseorang dapat mengetahui nasib atau masa depannya.
“Sinau penanggalan Jawi saged dados sarana mangertosi kabudayan para leluhur.”
Artinya: Mempelajari penanggalan Jawa dapat menjadi cara untuk memahami kebudayaan para leluhur.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Menganggap Weton Sama dengan Wuku
Weton adalah gabungan hari dan pasaran. Wuku adalah nama pekan dalam pawukon.
Menganggap Wuku Sama dengan Pawukon
Wuku merupakan satu bagian. Pawukon adalah seluruh rangkaian 30 wuku.
Mengira Pawukon Berlangsung Satu Tahun
Satu siklus pawukon hanya berlangsung selama 210 hari.
Salah Menghitung Jumlah Wuku
Jumlah wuku dalam pawukon adalah 30, bukan 12, 35, atau 210.
Angka 210 menunjukkan jumlah hari dalam satu siklus.
Salah Menyebut Wuku Terakhir
Wuku terakhir adalah Watugunung. Dukut merupakan wuku ke-29.
Mencampurkan Ejaan Jawa dan Bali
Beberapa wuku memiliki nama atau ejaan berbeda. Gunakan satu bentuk utama dan berikan variasinya dalam keterangan.
Menganggap Semua Hari Suci Hindu Menggunakan Pawukon
Sebagian hari suci memakai pawukon. Hari suci lainnya dapat ditentukan menggunakan perhitungan yang berbeda.
Menganggap Hasil Pawukon sebagai Kepastian Nasib
Pawukon merupakan pengetahuan budaya dan perhitungan waktu. Tafsir mengenai watak atau hari tertentu bukan kepastian masa depan.
Cara Menyikapi Perhitungan Pawukon dengan Bijaksana
Gunakan pawukon untuk memahami budaya dan penanggalan tradisional.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Periksa sumber kalender.
- Jangan takut pada tafsir tertentu.
- Jangan mengambil keputusan besar hanya dari satu hitungan.
- Bicarakan dengan keluarga atau tokoh adat.
- Untuk kebutuhan agama, ikuti panduan tokoh dan lembaga keagamaan.
- Tetap pertimbangkan keadaan nyata.
- Bandingkan hasil jika ditemukan perbedaan.
Pawukon dapat dilestarikan tanpa harus menjadikan setiap penafsiran sebagai kepastian.
“Kabudayan prayogi dipunuri-uri kanthi pangertosan ingkang leres.”
Artinya: Kebudayaan sebaiknya dilestarikan dengan pemahaman yang benar.
Pertanyaan Umum tentang Weton, Wuku, dan Pawukon
Apa itu weton?
Weton adalah gabungan hari biasa dan pasaran Jawa.
Contohnya adalah Jumat Legi, Senin Pon, dan Rabu Kliwon.
Apa itu wuku?
Wuku adalah nama pekan yang berlangsung selama tujuh hari dalam siklus pawukon.
Pawukon artinya apa?
Pawukon adalah sistem penanggalan atau perhitungan waktu berdasarkan urutan 30 wuku.
Pawukon ada berapa wuku?
Satu siklus pawukon terdiri dari 30 wuku.
Berapa lama satu wuku?
Satu wuku berlangsung selama tujuh hari.
Berapa lama satu siklus pawukon?
Satu siklus berlangsung selama 210 hari.
Angka tersebut berasal dari 30 wuku dikalikan tujuh hari.
Apa wuku pertama dalam pawukon?
Wuku pertama adalah Sinta.
Wuku terakhir dalam sistem pawukon disebut wuku apa?
Wuku terakhir disebut Watugunung. Watugunung merupakan wuku ke-30.
Apakah weton sama dengan wuku?
Tidak. Weton adalah gabungan hari dan pasaran, sedangkan wuku adalah nama pekan.
Apakah wuku sama dengan pawukon?
Tidak. Wuku merupakan bagian dari pawukon, sedangkan pawukon adalah seluruh siklusnya.
Apakah satu tanggal mempunyai weton dan wuku?
Ya. Satu tanggal dapat mempunyai hari, pasaran, weton, dan nama wuku secara bersamaan.
Hari suci Hindu apa yang menggunakan pawukon?
Contohnya adalah Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, dan rangkaian Tumpek.
Masing-masing mempunyai pertemuan hari, pasaran atau wewaran, serta wuku tertentu.
Apakah pawukon sama dengan kalender Jawa bulanan?
Tidak. Pawukon berjalan melalui siklus 210 hari, sedangkan kalender Jawa bulanan memakai bulan dan tahun.
Bagaimana cara mengetahui wuku kelahiran?
Wuku kelahiran dapat diketahui dengan melihat kalender yang mencantumkan wuku atau menggunakan kalkulator pawukon berdasarkan tanggal lahir.
Kesimpulan
Weton, wuku, pawukon saling berhubungan dalam penanggalan tradisional, tetapi mempunyai arti yang berbeda.
Weton adalah gabungan hari dan pasaran. Wuku merupakan nama pekan yang berlangsung selama tujuh hari. Pawukon adalah rangkaian 30 wuku yang berlangsung selama 210 hari.
Ringkasannya adalah:
- Wuku pertama: Sinta.
- Wuku terakhir: Watugunung.
- Jumlah wuku: 30.
- Lama satu wuku: 7 hari.
- Lama satu siklus pawukon: 210 hari.
Pawukon dikenal dalam kebudayaan Jawa dan Bali. Namun, ejaan nama wuku, penggunaan adat, dan kaitannya dengan kegiatan keagamaan dapat berbeda.
Sistem ini sebaiknya dipelajari sebagai warisan pengetahuan budaya. Hindari menggunakan hasil perhitungan sebagai kepastian mengenai watak, rezeki, jodoh, atau masa depan.
Lanjutkan pembahasan melalui cek weton dan wuku berdasarkan tanggal lahir, lihat daftar 30 wuku, pelajari kalender Jawa lengkap, kenali hari suci Hindu berdasarkan pawukon, dan gunakan kalkulator pawukon.
“Warisan para leluhur prayogi dipunsinau, dipunmangertosi, lan dipunlestantunaken.”
Artinya: Warisan para leluhur sebaiknya dipelajari, dipahami, dan dilestarikan.

