Daftar 30 Wuku dalam Pawukon Jawa secara Urut dan Lengkap
Foto ilustrasi: Daftar 30 Wuku dalam Pawukon Jawa secara Urut dan Lengkap

Daftar 30 Wuku dalam Pawukon Jawa secara Urut dan Lengkap

Diposting pada

Istilah wuku masih sering ditemukan dalam Kalender Jawa, primbon, Pawukon, dan penanggalan Bali. Sebagian orang mungkin pernah mendengar nama Wuku Sinta, Kuningan, Wayang, atau Watugunung, tetapi belum mengetahui urutannya secara lengkap.

Dalam daftar 30 wuku dalam Pawukon Jawa, setiap wuku berlangsung selama tujuh hari. Jika seluruhnya dijumlahkan, satu putaran Pawukon berlangsung selama 210 hari.

Setelah Wuku Watugunung selesai, putaran tidak berhenti. Siklus kembali dimulai dari Wuku Sinta dan terus berulang.

Artikel ini membahas pengertian Pawukon, perbedaan wuku dengan weton, urutan 30 wuku Jawa, variasi penyebutannya, serta cara mengetahui wuku berdasarkan tanggal lahir.

Pengertian dari Pawukon ?

Pawukon adalah sistem perhitungan waktu yang tersusun dari 30 bagian. Setiap bagian tersebut disebut wuku.

Perhitungannya cukup mudah dipahami:

  • Jumlah wuku: 30.
  • Lama setiap wuku: 7 hari.
  • Lama satu putaran: 30 × 7 = 210 hari.

Pawukon tidak mengikuti pembagian Januari sampai Desember. Sistem ini berjalan dalam putaran sendiri yang terus berulang.

Putarannya dimulai dari Wuku Sinta. Setelah melewati seluruh susunan hingga Wuku Watugunung, hitungan kembali lagi ke Sinta.

Dengan demikian, Pawukon Jawa lengkap memuat 30 wuku yang tidak berubah urutannya. Hal yang berubah adalah tanggal Masehi yang bertepatan dengan setiap wuku.

Pengertian tentang Wuku?

Wuku adalah satu bagian selama tujuh hari dalam siklus Pawukon.

Jika Pawukon dianggap sebagai sebuah putaran panjang, setiap wuku merupakan satu bagian pekan di dalam putaran tersebut.

Setiap wuku mempunyai nama sendiri. Wuku pertama bernama Sinta, sedangkan wuku terakhir bernama Watugunung.

Wuku bukan nama bulan karena hanya berlangsung selama tujuh hari. Wuku juga bukan nama hari, pasaran, atau tahun.

Dalam susunan yang umum digunakan, satu wuku berjalan dari Minggu sampai Sabtu. Setelah tujuh hari selesai, perhitungan masuk ke nama wuku berikutnya.

Apa Perbedaan Wuku, Weton, dan Pawukon?

Daftar 30 Wuku dalam Pawukon Jawa secara Urut
Foto ilustrasi: Daftar 30 Wuku dalam Pawukon Jawa secara Urut

Wuku, weton, dan Pawukon saling berhubungan dalam penanggalan tradisional, tetapi ketiganya mempunyai arti berbeda.

BagianPengertianContoh
WukuPekan tujuh hari dalam siklus PawukonSinta, Landep, Wukir
WetonGabungan hari dan pasaran JawaSenin Legi, Jumat Kliwon
PawukonKeseluruhan putaran 30 wukuSinta sampai Watugunung

Weton dibentuk dari hari biasa dan pasaran Jawa. Hari biasa terdiri dari Minggu sampai Sabtu, sedangkan pasaran terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Wuku menunjukkan posisi sebuah tanggal dalam putaran Pawukon. Sementara itu, Pawukon adalah keseluruhan sistem yang memuat 30 wuku.

Sebuah tanggal dapat mempunyai beberapa informasi sekaligus, yaitu:

  • Hari biasa.
  • Pasaran Jawa.
  • Weton.
  • Wuku.
  • Tanggal Jawa.
  • Bulan Jawa.

Karena itu, wuku dan weton tidak perlu dipertentangkan. Keduanya sama-sama dapat ditemukan pada tanggal yang sama, tetapi berasal dari putaran yang berbeda.

Daftar 30 Wuku dalam Pawukon Jawa

Berikut urutan 30 wuku Jawa dari yang pertama sampai terakhir:

  1. Sinta
  2. Landep
  3. Wukir
  4. Kurantil
  5. Tolu
  6. Gumbreg
  7. Warigalit
  8. Warigagung
  9. Julungwangi
  10. Sungsang
  11. Galungan
  12. Kuningan
  13. Langkir
  14. Mandasiya
  15. Julungpujud
  16. Pahang
  17. Kuruwelut
  18. Marakeh
  19. Tambir
  20. Madangkungan
  21. Maktal
  22. Wuye
  23. Manahil
  24. Prangbakat
  25. Bala
  26. Wugu
  27. Wayang
  28. Kulawu
  29. Dukut
  30. Watugunung

Urutan tersebut berjalan tetap. Variasi ejaan yang ditemukan dalam sumber Jawa maupun Bali tidak membuat jumlah wukunya bertambah.

Sebagai contoh, Marakeh dan Merakih dapat menunjuk pada wuku yang sama. Begitu pula Kulawu, Klawu, dan Kelawu.

Tabel Urutan 30 Wuku Jawa

UrutanNama WukuKeterangan Singkat
1SintaWuku pertama
2LandepWuku kedua
3WukirWuku ketiga
4KurantilWuku keempat
5ToluWuku kelima
6GumbregWuku keenam
7WarigalitWuku ketujuh
8WarigagungWuku kedelapan
9JulungwangiWuku kesembilan
10SungsangWuku kesepuluh
11GalunganWuku kesebelas
12KuninganWuku kedua belas
13LangkirWuku ketiga belas
14MandasiyaWuku keempat belas
15JulungpujudWuku kelima belas
16PahangWuku keenam belas
17KuruwelutWuku ketujuh belas
18MarakehWuku kedelapan belas
19TambirWuku kesembilan belas
20MadangkunganWuku kedua puluh
21MaktalWuku kedua puluh satu
22WuyeWuku kedua puluh dua
23ManahilWuku kedua puluh tiga
24PrangbakatWuku kedua puluh empat
25BalaWuku kedua puluh lima
26WuguWuku kedua puluh enam
27WayangWuku kedua puluh tujuh
28KulawuWuku kedua puluh delapan
29DukutWuku kedua puluh sembilan
30WatugunungWuku terakhir

Tabel tersebut membantu pembaca melihat posisi setiap wuku. Setelah Wuku Watugunung selesai, urutan kembali lagi ke Sinta.

Penjelasan Singkat Setiap Wuku

1. Wuku Sinta

Sinta merupakan wuku pertama dalam siklus Pawukon. Setelah tujuh hari Watugunung selesai, putaran dimulai kembali dari Sinta.

Ketika orang mencari “Wuku Sinta artinya”, penjelasan paling dasar adalah bahwa Sinta menempati urutan pertama. Nama Sinta juga berkaitan dengan tokoh dalam kisah tradisional yang menyertai susunan Pawukon.

2. Wuku Landep

Landep adalah wuku kedua dan berada setelah Sinta. Setelah tujuh hari Landep selesai, putaran berlanjut ke Wukir.

Nama Landep tidak sebaiknya langsung digunakan untuk menyimpulkan sifat seseorang. Pembahasan mengenai watak merupakan bagian penafsiran tradisional yang dapat berbeda menurut sumber.

3. Wuku Wukir

Wukir adalah wuku ketiga dalam urutan Pawukon Jawa. Letaknya setelah Landep dan sebelum Kurantil.

Pada beberapa susunan lain, Wukir dapat ditemukan dengan penulisan Ukir. Keduanya tidak perlu dianggap sebagai dua wuku berbeda.

4. Wuku Kurantil

Kurantil merupakan wuku keempat. Wuku ini berada setelah Wukir dan sebelum Tolu.

Dalam beberapa sumber, namanya dapat ditulis Kulantir atau Kilantir. Perbedaan tersebut biasanya berkaitan dengan bahasa dan kebiasaan penulisan.

5. Wuku Tolu

Tolu adalah wuku kelima dalam Pawukon. Letaknya setelah Kurantil dan sebelum Gumbreg.

Nama ini juga dapat ditemukan dalam bentuk Tulu atau Taulu. Variasi penyebutan tidak mengubah posisinya sebagai wuku kelima.

6. Wuku Gumbreg

Gumbreg adalah wuku keenam. Wuku ini berada setelah Tolu dan sebelum Warigalit.

Ejaan Gumbreg digunakan sebagai nama utama dalam susunan Jawa. Penafsiran mengenai wataknya dapat berbeda, sehingga tidak perlu dianggap sebagai kepastian.

7. Wuku Warigalit

Warigalit adalah wuku ketujuh dalam putaran Pawukon. Letaknya setelah Gumbreg dan sebelum Warigagung.

Pada susunan lain, terutama dalam variasi Bali, nama Warigalit dapat ditemukan sebagai Wariga. Posisi dasarnya tetap berada pada bagian ketujuh.

8. Wuku Warigagung

Warigagung merupakan wuku kedelapan. Wuku ini berada setelah Warigalit dan sebelum Julungwangi.

Dalam sejumlah penulisan Bali, Warigagung juga dapat disebut Warigadean. Variasi nama tersebut masih berada dalam susunan yang sama.

9. Wuku Julungwangi

Julungwangi adalah wuku kesembilan dalam Pawukon. Letaknya setelah Warigagung dan sebelum Sungsang.

Nama Julungwangi sebaiknya dipahami sebagai nama wuku. Arti yang lebih khusus tidak perlu dibuat apabila sumbernya tidak dapat dipastikan.

10. Wuku Sungsang

Sungsang merupakan wuku kesepuluh. Wuku ini berada setelah Julungwangi dan sebelum Galungan.

Nama tersebut menandai posisi kesepuluh dalam putaran 210 hari. Setelah tujuh hari selesai, perhitungan memasuki Galungan.

11. Wuku Galungan

Galungan adalah wuku kesebelas. Letaknya setelah Sungsang dan sebelum Kuningan.

Dalam beberapa susunan Bali, wuku ini dikenal sebagai Dunggulan. Nama Galungan juga dikenal dalam tradisi Hindu Bali, tetapi pembahasan wuku dan hari raya tidak perlu dicampurkan seluruhnya.

12. Wuku Kuningan

Kuningan merupakan wuku kedua belas dalam Pawukon. Wuku ini berada setelah Galungan dan sebelum Langkir.

Dalam tradisi Hindu Bali, nama Kuningan juga berkaitan dengan peringatan yang mengikuti siklus Pawukon. Namun, penggunaan dan penjelasannya dapat berbeda dari pembahasan wuku dalam tradisi Jawa.

13. Wuku Langkir

Langkir adalah wuku ketiga belas. Letaknya setelah Kuningan dan sebelum Mandasiya.

Wuku Langkir berlangsung selama tujuh hari seperti wuku lainnya. Setelah itu, siklus bergerak ke Mandasiya.

14. Wuku Mandasiya

Mandasiya merupakan wuku keempat belas. Wuku ini berada setelah Langkir dan sebelum Julungpujud.

Pada beberapa sumber, terutama dalam variasi Bali, namanya dapat ditulis Medangsia. Keduanya menunjuk pada posisi wuku yang sama.

15. Wuku Julungpujud

Julungpujud adalah wuku kelima belas. Letaknya berada di tengah putaran 30 wuku.

Nama ini dapat ditemukan dalam bentuk Julungpujut atau Pujut. Variasi penulisan tersebut tidak menjadi wuku tambahan.

16. Wuku Pahang

Pahang merupakan wuku keenam belas. Wuku ini berada setelah Julungpujud dan sebelum Kuruwelut.

Nama Pahang dalam Pawukon tidak perlu langsung dikaitkan dengan wilayah yang memiliki nama sama. Keduanya belum tentu mempunyai hubungan yang sama.

17. Wuku Kuruwelut

Kuruwelut adalah wuku ketujuh belas. Letaknya setelah Pahang dan sebelum Marakeh.

Dalam beberapa penyebutan, nama ini dapat ditemukan sebagai Krulut. Perbedaan pengucapan tersebut masih menunjuk pada satu posisi yang sama.

18. Wuku Marakeh

Marakeh merupakan wuku kedelapan belas. Wuku ini berada setelah Kuruwelut dan sebelum Tambir.

Nama Marakeh juga dapat dijumpai sebagai Merakih atau Mrakeh. Variasi ejaan tersebut bukan nama wuku yang berbeda.

19. Wuku Tambir

Tambir adalah wuku kesembilan belas. Letaknya setelah Marakeh dan sebelum Madangkungan.

Wuku ini berlangsung selama tujuh hari. Setelahnya, putaran bergerak menuju wuku kedua puluh.

20. Wuku Madangkungan

Madangkungan merupakan wuku kedua puluh dalam susunan Pawukon. Letaknya setelah Tambir dan sebelum Maktal.

Nama ini juga dapat ditulis Medangkungan. Perbedaan satu huruf atau pengucapan tidak mengubah posisinya.

21. Wuku Maktal

Maktal adalah wuku kedua puluh satu. Wuku ini berada setelah Madangkungan dan sebelum Wuye.

Pada beberapa sumber, namanya dapat ditulis Matal atau Mahatal. Semua variasi tersebut menunjuk pada wuku yang sama dalam putaran Pawukon.

22. Wuku Wuye

Wuye merupakan wuku kedua puluh dua. Letaknya setelah Maktal dan sebelum Manahil.

Dalam variasi penulisan tertentu, Wuye dapat disebut Uye. Penyebutan tersebut masih merujuk pada posisi yang sama.

23. Wuku Manahil

Manahil adalah wuku kedua puluh tiga. Wuku ini berada setelah Wuye dan sebelum Prangbakat.

Nama Manahil juga dapat ditemukan sebagai Manail atau Menail. Perbedaan ejaan dipengaruhi oleh kebiasaan bahasa dan penulisan.

24. Wuku Prangbakat

Prangbakat merupakan wuku kedua puluh empat. Letaknya setelah Manahil dan sebelum Bala.

Nama Prangbakat merupakan satu nama wuku. Jangan memisahkannya menjadi Prang dan Bakat sebagai dua bagian berbeda.

25. Wuku Bala

Bala adalah wuku kedua puluh lima dalam siklus Pawukon. Wuku ini berada setelah Prangbakat dan sebelum Wugu.

Setelah tujuh hari Bala selesai, hitungan bergerak ke wuku berikutnya.

26. Wuku Wugu

Wugu merupakan wuku kedua puluh enam. Letaknya setelah Bala dan sebelum Wayang.

Nama Wugu dapat ditemukan sebagai Ugu pada sumber tertentu. Variasi tersebut tetap menunjuk pada wuku ke-26.

27. Wuku Wayang

Wayang adalah wuku kedua puluh tujuh. Wuku ini berada setelah Wugu dan sebelum Kulawu.

Nama Wayang dalam daftar Pawukon tidak perlu diperluas menjadi pembahasan sejarah wayang. Dalam artikel ini, Wayang cukup dipahami sebagai nama wuku ke-27.

28. Wuku Kulawu

Kulawu merupakan wuku kedua puluh delapan. Letaknya setelah Wayang dan sebelum Dukut.

Nama ini juga dapat ditulis Klawu atau Kelawu. Ketiganya dapat merujuk pada wuku yang sama.

29. Wuku Dukut

Dukut adalah wuku kedua puluh sembilan. Wuku ini berada setelah Kulawu dan sebelum Watugunung.

Dalam beberapa tulisan, Dukut dapat ditemukan sebagai Dhukut. Setelah wuku ini selesai, siklus memasuki bagian terakhir.

30. Wuku Watugunung

Watugunung merupakan wuku ketiga puluh sekaligus wuku terakhir dalam Pawukon.

Setelah tujuh hari Watugunung selesai, putaran 210 hari berakhir dan kembali dimulai dari Sinta.

Watugunung juga dikenal sebagai tokoh dalam kisah tradisional yang menyertai asal-usul susunan Pawukon. Cerita tersebut menjadi bagian kebudayaan, tetapi tidak perlu dipahami sebagai catatan sejarah biasa.

Mengapa Satu Putaran Pawukon Berjumlah 210 Hari?

Perhitungan panjang satu putaran Pawukon sangat sederhana.

Jumlah wukunya adalah 30. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari.

Dengan demikian:

30 wuku × 7 hari = 210 hari

Putaran 210 hari lebih pendek daripada satu tahun Masehi yang berlangsung sekitar 365 hari.

Akibatnya, posisi suatu wuku terhadap tanggal Masehi terus bergerak. Wuku Sinta, misalnya, tidak selalu dimulai pada tanggal dan bulan Masehi yang sama.

Karena itu, nama wuku yang sedang berlangsung perlu diperiksa berdasarkan tanggal lengkap. Mengandalkan bulan Masehi saja tidak cukup.

Bagaimana Mengetahui Wuku Kelahiran?

Wuku kelahiran ditentukan berdasarkan tanggal ketika seseorang dilahirkan.

Data yang dibutuhkan adalah:

  1. Tanggal lahir.
  2. Bulan lahir.
  3. Tahun lahir.

Langkah pemeriksaannya adalah:

  1. Siapkan tanggal lahir lengkap.
  2. Masukkan tanggal, bulan, dan tahun.
  3. Pastikan tidak ada kesalahan angka.
  4. Periksa nama wuku yang muncul.
  5. Catat urutan wukunya.
  6. Baca penjelasan secara menyeluruh.
  7. Jangan menganggap hasilnya sebagai kepastian hidup.

Nama wuku kelahiran dapat diketahui melalui cek pawukon dengan memasukkan tanggal lahir secara lengkap.

Istilah “Pawukon bayi lahir” biasanya merujuk pada pencarian wuku yang sedang berlangsung ketika seorang bayi dilahirkan.

Wuku kelahiran dapat dicatat sebagai bagian dari tradisi. Namun, wuku tidak dapat memastikan kesehatan, watak, keberhasilan, atau masa depan seorang anak.

Tumbuh kembang anak tetap dipengaruhi oleh kesehatan, pengasuhan, pendidikan, lingkungan, perhatian keluarga, dan berbagai keadaan nyata.

Cara Mengetahui Wuku yang Sedang Berlangsung

Wuku berganti setiap tujuh hari. Oleh sebab itu, satu nama wuku berlaku selama satu pekan penuh.

Nama wuku saat ini tidak dapat diketahui hanya dengan melihat nama hari. Dua hari Minggu yang berbeda belum tentu berada dalam wuku yang sama.

Pasaran Jawa juga belum cukup untuk menentukan wuku. Diperlukan posisi tanggal dalam siklus Pawukon selama 210 hari.

Tanggal tertentu dapat diperiksa melalui cek wuku untuk mengetahui posisinya dalam putaran Sinta sampai Watugunung.

Pemeriksaan berdasarkan tanggal juga lebih mudah daripada menghitung putaran secara manual. Pastikan tanggal, bulan, dan tahun yang dimasukkan sudah benar.

Hubungan Wuku dengan Weton

Wuku dan weton dapat ditemukan pada sebuah tanggal yang sama. Namun, cara pembentukannya berbeda.

Weton dibentuk dari:

  • Hari biasa.
  • Pasaran Jawa.

Contoh weton adalah:

  • Senin Legi.
  • Rabu Pon.
  • Jumat Kliwon.

Sementara itu, wuku adalah nama pekan dalam siklus Pawukon, seperti Sinta, Landep, Wukir, atau Kuningan.

Seseorang dapat mempunyai weton kelahiran sekaligus wuku kelahiran. Keduanya diambil dari tanggal yang sama, tetapi menggunakan susunan perhitungan berbeda.

Hari dan pasaran kelahiran dapat dicocokkan melalui cek weton tanggal lahir apabila pembaca juga ingin mengetahui wetonnya.

Jadi, istilah “wuku weton” sebaiknya tidak dipahami sebagai satu hal yang sama. Wuku dan weton merupakan dua keterangan yang dapat berdampingan.

Perbedaan Wuku Hari Ini dan Weton Hari Ini

Wuku hari ini dan weton hari ini tidak sama.

Satu wuku berlangsung selama tujuh hari. Selama tujuh hari tersebut, nama wukunya tetap sama.

Weton berubah setiap hari karena mengikuti gabungan hari biasa dan pasaran.

Sebagai contoh, dalam satu wuku dapat terdapat tujuh weton harian yang berbeda. Ketika hari berganti, gabungan hari dan pasarannya juga berubah.

Pembaca yang hanya ingin mengetahui hari serta pasaran sekarang dapat melakukan cek weton hari ini.

Ringkasnya:

  • Wuku berubah setiap tujuh hari.
  • Weton berubah setiap hari.
  • Satu wuku memuat tujuh weton harian.
  • Keduanya dapat diketahui dari tanggal yang sama.

Hubungan Wuku dengan Primbon Jawa

Wuku dapat ditemukan dalam berbagai pembahasan primbon Jawa.

Dalam sumber tradisional tertentu, wuku dapat dikaitkan dengan:

  • Gambaran watak.
  • Kecenderungan sikap.
  • Lambang.
  • Wejangan.
  • Hal yang dianggap sesuai.
  • Hal yang dianggap perlu diperhatikan.

Namun, tidak semua sumber memberikan penjelasan yang sama.

Satu sumber mungkin membahas lambang dan watak. Sumber lain lebih banyak membahas hari, kegiatan, atau nasihat kehidupan.

Karena itu, pembaca tidak perlu menganggap semua penjelasan sebagai kepastian.

Penjelasan tradisional berdasarkan weton dapat dilanjutkan melalui cek primbon online dan sebaiknya dibaca sebagai wawasan budaya.

Kehidupan seseorang tidak hanya dipengaruhi wuku atau weton. Pendidikan, keluarga, lingkungan, kesehatan, pilihan, dan tanggung jawab pribadi tetap mempunyai peran besar.

Pawukon Jawa dan Pawukon Bali, Apakah Sama?

Pawukon Jawa dan Pawukon Bali mempunyai dasar yang sangat berkaitan.

Keduanya mengenal:

  • Putaran 30 wuku.
  • Lama tujuh hari untuk setiap wuku.
  • Putaran keseluruhan selama 210 hari.
  • Urutan dari Sinta sampai Watugunung.

Walaupun demikian, beberapa perbedaan dapat ditemukan dalam:

  • Ejaan nama wuku.
  • Cara pengucapan.
  • Bahasa.
  • Cara penyajian kalender.
  • Keterangan budaya.
  • Penggunaan dalam kehidupan masyarakat.
  • Hubungan dengan kegiatan adat dan keagamaan.

Beberapa variasi nama yang sering ditemukan antara lain:

Bentuk JawaVariasi Lain
SintaSita
WukirUkir
KurantilKulantir atau Kilantir
ToluTulu atau Taulu
WarigalitWariga
WarigagungWarigadean
GalunganDunggulan
MandasiyaMedangsia
JulungpujudJulungpujut atau Pujut
KuruwelutKrulut
MarakehMerakih atau Mrakeh
MaktalMatal atau Mahatal
WuyeUye
ManahilManail atau Menail
WuguUgu
KulawuKlawu atau Kelawu

Perbedaan penyebutan tersebut tidak berarti salah satu tradisi pasti keliru.

Sistem dasarnya memiliki banyak kesamaan, tetapi penggunaannya berkembang sesuai bahasa, daerah, dan kebiasaan masyarakat.

Pawukon dalam Tradisi Hindu Bali

Pawukon mempunyai kedudukan penting dalam wariga dan penanggalan Hindu Bali.

Putaran wuku digunakan sebagai bagian dari perhitungan waktu untuk sejumlah kegiatan adat dan peringatan keagamaan.

Nama Galungan dan Kuningan, misalnya, dikenal dalam putaran Pawukon serta berkaitan dengan peringatan dalam tradisi Hindu Bali.

Namun, pembahasan mengenai ajaran, tata cara ibadah, dan pelaksanaan upacara perlu mengikuti sumber serta penjelasan dari pihak yang memahami agama dan tradisi tersebut.

Bagian ini hanya menjelaskan hubungan Pawukon dengan penanggalan budaya. Pawukon tidak hanya dikenal di Bali karena sistem serupa juga berkembang dalam tradisi Jawa.

Penggunaannya tidak selalu sama di setiap daerah. Karena itu, Pawukon Jawa dan Bali sebaiknya dipahami sebagai tradisi yang berkaitan, tetapi mempunyai perkembangan budaya masing-masing.

Apakah Ada Wuku Terbaik?

Tidak ada satu wuku yang mutlak paling baik bagi semua orang.

Seluruh wuku mempunyai posisi yang sama dalam satu putaran. Sinta menjadi wuku pertama, sementara Watugunung menjadi wuku terakhir, tetapi hal itu bukan peringkat baik dan buruk.

Sumber tradisional dapat memberikan penjelasan berbeda mengenai:

  • Kelebihan.
  • Hal yang perlu diperhatikan.
  • Lambang.
  • Wejangan.
  • Hari yang dianggap sesuai.
  • Kegiatan yang biasa dipertimbangkan.

Penjelasan tersebut merupakan penafsiran tradisional, bukan ukuran mutlak untuk menentukan wuku terbaik.

Jangan menganggap seseorang lebih unggul hanya karena lahir pada wuku tertentu. Sebaliknya, jangan pula merendahkan orang yang lahir pada wuku lain.

Kehidupan seseorang tetap dipengaruhi oleh:

  • Keluarga.
  • Pendidikan.
  • Lingkungan.
  • Kesehatan.
  • Kebiasaan.
  • Pilihan.
  • Kesempatan.
  • Kerja keras.
  • Hubungan dengan orang lain.
  • Tanggung jawab pribadi.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memahami Wuku

Beberapa kesalahan berikut sering muncul ketika seseorang baru mengenal Pawukon.

Menganggap wuku sama dengan weton

Weton adalah gabungan hari dan pasaran. Wuku adalah pekan tujuh hari dalam siklus Pawukon.

Keduanya dapat muncul pada tanggal yang sama, tetapi bukan hal yang sama.

Menganggap wuku sebagai bulan

Satu wuku hanya berlangsung selama tujuh hari.

Wuku tidak sama dengan bulan Jawa maupun bulan Masehi.

Mengira Pawukon berlangsung 365 hari

Satu putaran Pawukon hanya berlangsung selama 210 hari.

Setelah Watugunung selesai, putaran langsung kembali ke Sinta.

Menganggap variasi ejaan sebagai wuku berbeda

Marakeh, Merakih, dan Mrakeh dapat merujuk pada wuku yang sama.

Kulawu, Klawu, dan Kelawu juga bukan tiga wuku berbeda.

Menganggap satu wuku selalu paling baik

Tidak ada peringkat mutlak dari wuku terbaik sampai wuku terburuk.

Setiap wuku merupakan bagian dari satu siklus yang sama.

Menentukan wuku hanya dari nama hari

Hari Minggu, Senin, atau Jumat belum cukup untuk menentukan wuku.

Tanggal, bulan, dan tahun lengkap diperlukan untuk mengetahui posisinya dalam putaran Pawukon.

Menganggap wuku menentukan nasib bayi

Wuku kelahiran dapat dicatat sebagai bagian dari tradisi.

Namun, wuku tidak dapat memastikan kesehatan, kepandaian, rezeki, watak, atau masa depan seorang bayi.

Takut terhadap penafsiran negatif

Penafsiran tradisional tidak seharusnya digunakan untuk menakut-nakuti.

Hindari sumber yang menyatakan seseorang pasti celaka, gagal, atau membawa kesialan hanya berdasarkan wuku kelahiran.

Mengapa Daftar 30 Wuku Perlu Dikenal?

Daftar 30 wuku membantu generasi muda memahami istilah yang masih digunakan dalam Kalender Jawa, Pawukon, primbon, dan penanggalan Bali.

Dengan mengenal urutannya, pembaca dapat memahami:

  • Pengertian wuku.
  • Cara kerja Pawukon.
  • Putaran 210 hari.
  • Perbedaan wuku dan weton.
  • Tradisi keluarga.
  • Istilah yang digunakan orang tua.
  • Hubungan kebudayaan Jawa dan Bali.
  • Cara masyarakat dahulu mengenali putaran waktu.

Pengetahuan tersebut juga membantu menjaga nama-nama wuku agar tidak hilang.

“Kabudayan prayogi dipun mangertosi kanthi weninging manah lan dipun uri-uri kanthi wicaksana.”

Artinya, kebudayaan sebaiknya dipahami dengan hati yang jernih dan dilestarikan secara bijaksana.

Melestarikan budaya tidak berarti harus mempercayai setiap penafsiran secara mutlak.

Budaya dapat dipelajari sebagai pengetahuan, sejarah, bahasa, dan warisan keluarga yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud Pawukon?

Pawukon adalah siklus waktu yang tersusun dari 30 wuku. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari sehingga satu putaran berjumlah 210 hari.

Wuku adalah apa?

Wuku adalah satu bagian selama tujuh hari dalam siklus Pawukon. Setiap wuku memiliki nama sendiri, mulai dari Sinta sampai Watugunung.

Ada berapa wuku dalam Pawukon Jawa?

Terdapat 30 wuku dalam Pawukon Jawa. Urutannya dimulai dari Sinta dan berakhir pada Watugunung.

Berapa lama satu wuku?

Satu wuku berlangsung selama tujuh hari. Setelah tujuh hari selesai, putaran memasuki nama wuku berikutnya.

Apa perbedaan wuku dan weton?

Wuku merupakan pekan dalam Pawukon, sedangkan weton adalah gabungan hari biasa dan pasaran Jawa.

Apakah ada wuku terbaik?

Tidak ada satu wuku yang mutlak paling baik untuk semua orang. Penjelasan kelebihan dan kekurangan setiap wuku merupakan bagian dari penafsiran tradisional.

Bagaimana cara mengetahui wuku kelahiran?

Wuku kelahiran diketahui dengan memeriksa tanggal, bulan, dan tahun lahir dalam perhitungan Pawukon.

Penutup

Pawukon Jawa mempunyai 30 wuku yang tersusun secara berurutan:

  1. Sinta
  2. Landep
  3. Wukir
  4. Kurantil
  5. Tolu
  6. Gumbreg
  7. Warigalit
  8. Warigagung
  9. Julungwangi
  10. Sungsang
  11. Galungan
  12. Kuningan
  13. Langkir
  14. Mandasiya
  15. Julungpujud
  16. Pahang
  17. Kuruwelut
  18. Marakeh
  19. Tambir
  20. Madangkungan
  21. Maktal
  22. Wuye
  23. Manahil
  24. Prangbakat
  25. Bala
  26. Wugu
  27. Wayang
  28. Kulawu
  29. Dukut
  30. Watugunung

Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari. Dengan jumlah 30 wuku, satu putaran Pawukon berlangsung selama 210 hari.

Setelah Watugunung selesai, siklus kembali dimulai dari Sinta.

Wuku berbeda dari weton. Wuku menunjukkan pekan dalam Pawukon, sedangkan weton merupakan gabungan hari dan pasaran Jawa.

Variasi ejaan dapat ditemukan dalam sumber Jawa dan Bali. Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu penulisan salah atau menunjukkan wuku yang berbeda.

Wuku kelahiran dapat diketahui dari tanggal lahir lengkap. Hasilnya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pengetahuan budaya dan tidak digunakan untuk menentukan seluruh masa depan seseorang.

Ditulis oleh Diterbitkan Diperbarui

Tentang Penulis

Dananjaya Abimanyu

Penulis Kalender, Pawukon, dan Budaya Jawa

Dananjaya Abimanyu adalah penulis di Javanesetime.org yang membahas kalender Jawa, pawukon, wuku, pranata mangsa, aksara Jawa, sejarah, dan tradisi masyarakat Jawa. Ia menyusun artikel dengan membandingkan sumber tertulis, katalog perpustakaan, dan dokumentasi budaya. Setiap pembahasan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami serta menjelaskan kemungkinan perbedaan antara satu sumber dan sumber lainnya.

Bidang: Kalender Jawa, tanggal Jawa, wuku, pawukon, pranata mangsa, Kalender Sultan Agung, nama bulan dan tahun Jawa, pergantian hari Jawa, aksara Jawa, sejarah Jawa, tradisi, wayang, dan cerita rakyat.

Gambar Gravatar
Menulis tentang kalender Jawa, pawukon, wuku, pranata mangsa, aksara, sejarah, dan tradisi masyarakat Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *