Masyarakat Jawa mengenal dua belas nama bulan Jawa dalam sistem penanggalannya. Beberapa nama terdengar dekat dengan bulan Islam, sedangkan nama lain lebih dikenal melalui penyebutan Jawa, seperti Sura, Mulud, Ruwah, Pasa, dan Besar.
Nama-nama tersebut masih digunakan dalam percakapan keluarga, kegiatan budaya, penentuan peringatan tertentu, serta pencatatan waktu menurut tradisi Jawa. Pengucapan dan ejaannya dapat sedikit berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Artikel ini membahas urutan nama bulan Jawa dan artinya, hubungannya dengan bulan Hijriah, perbedaannya dengan bulan nasional, serta cara mengetahui bulan Jawa yang sedang berlangsung.
Apa yang Dimaksud Bulan Jawa?
Bulan Jawa adalah pembagian waktu dalam Kalender Jawa. Dalam satu tahun terdapat dua belas bulan yang dimulai dari Sura dan berakhir pada Besar.
Awal bulan Jawa tidak selalu bertepatan dengan tanggal pertama dalam kalender Masehi. Sebuah bulan Jawa dapat dimulai pada pertengahan bulan Masehi dan berakhir pada bulan Masehi berikutnya.
Penanggalan Jawa yang dikenal sekarang memiliki hubungan sejarah dengan penanggalan Islam. Hal tersebut dapat dilihat dari kedekatan urutan dan penyebutan beberapa nama bulannya.
Meskipun demikian, Kalender Jawa bukan sekadar nama lain dari kalender Hijriah. Keduanya memiliki angka tahun, penyebutan, dan perkembangan penanggalan masing-masing.
Istilah nama bulan Jawa kuno sering dipakai masyarakat ketika mencari nama-nama bulan tradisional. Namun, nama bulan Jawa yang digunakan saat ini telah berkembang melalui perjalanan sejarah dan mendapat pengaruh dari penyebutan bulan Islam.
Daftar Nama Bulan Jawa secara Urut

Berikut nama bulan Jawa dalam setahun, mulai dari bulan pertama sampai bulan terakhir.
| Nama Bulan Jawa | Bulan Hijriah yang Berkaitan | Keterangan Singkat |
|---|---|---|
| Sura | Muharam | Bulan pertama dalam tahun Jawa. |
| Sapar | Safar | Bulan kedua dalam penanggalan Jawa. |
| Mulud | Rabiulawal | Berkaitan dengan penyebutan maulid atau kelahiran. |
| Bakda Mulud | Rabiulakhir | Berarti masa setelah bulan Mulud. |
| Jumadilawal | Jumadilawal | Bulan kelima dalam urutan bulan Jawa. |
| Jumadilakir | Jumadilakhir | Bulan setelah Jumadilawal. |
| Rejeb | Rajab | Penyebutan Jawa untuk bulan Rajab. |
| Ruwah | Syakban | Bulan sebelum Pasa. |
| Pasa | Ramadan | Bulan pelaksanaan puasa Ramadan. |
| Sawal | Syawal | Bulan setelah Pasa. |
| Dulkangidah | Zulkaidah | Bulan kesebelas dalam penanggalan Jawa. |
| Besar | Zulhijah | Bulan terakhir dalam tahun Jawa. |
Penulisan nama bulan tersebut dapat berbeda dalam percakapan maupun tulisan. Sura, misalnya, sering diucapkan sebagai Suro. Pasa juga kerap disebut Poso dalam bahasa Jawa sehari-hari.
Jumadilawal dapat ditulis Jumadil Awal, sedangkan Jumadilakir dapat ditemukan dalam bentuk Jumadil Akhir. Dulkangidah juga memiliki beberapa variasi ejaan pada kalender dan catatan masyarakat.
Variasi tersebut tidak selalu berarti salah. Perbedaan dapat muncul karena kebiasaan pengucapan, ejaan, dan sumber penanggalan yang digunakan.
Arti dan Penjelasan Setiap Nama Bulan Jawa
Berikut penjelasan singkat mengenai dua belas nama bulan dalam Kalender Jawa.
1. Sura
Sura merupakan bulan pertama dalam tahun Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Muharam, yaitu bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Di sejumlah daerah, Sura dikenal sebagai waktu untuk merenung, mengingat perjalanan hidup, dan menjalankan kegiatan budaya tertentu. Bentuk tradisinya dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.
Sebagian masyarakat juga menggunakan istilah malam Sura untuk menyebut malam menjelang atau memasuki bulan tersebut. Namun, bulan Sura tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bulan yang selalu membawa kesialan.
Pandangan terhadap Sura berbeda-beda dalam masyarakat. Ada keluarga yang menjalankan tradisi tertentu, sedangkan keluarga lain menjalaninya seperti bulan biasa.
2. Sapar
Sapar adalah bulan kedua dalam Kalender Jawa dan berkaitan dengan bulan Safar dalam penanggalan Hijriah.
Nama Sapar berkembang mengikuti pengucapan masyarakat Jawa. Bentuknya terdengar mirip dengan Safar, tetapi telah menyesuaikan kebiasaan bahasa setempat.
Di beberapa daerah terdapat kegiatan budaya yang dilaksanakan pada bulan Sapar. Namun, jenis dan pelaksanaannya tidak sama di seluruh wilayah Jawa.
Bulan Sapar juga tidak dapat dianggap selalu membawa nasib buruk. Anggapan mengenai baik dan buruknya suatu bulan sebaiknya tidak digunakan untuk menakut-nakuti orang lain.
3. Mulud
Mulud merupakan bulan ketiga dalam penanggalan Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Rabiulawal.
Nama Mulud berhubungan dengan penyebutan maulid atau kelahiran. Dalam kehidupan masyarakat Muslim, Rabiulawal dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad.
Di beberapa daerah, bulan Mulud diisi dengan kegiatan budaya dan keagamaan. Bentuk kegiatannya dapat berupa peringatan, pengajian, sedekah, atau tradisi lain sesuai kebiasaan masyarakat setempat.
Tidak seluruh daerah menyelenggarakan kegiatan yang sama. Cara memperingatinya juga dapat berubah mengikuti perkembangan masyarakat.
4. Bakda Mulud
Bakda Mulud adalah bulan keempat dalam urutan Kalender Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Rabiulakhir.
Kata bakda berarti sesudah atau setelah. Dengan demikian, Bakda Mulud dapat dipahami sebagai bulan setelah Mulud.
Nama tersebut membantu masyarakat mengenali urutan bulan dengan cara yang sederhana. Setelah bulan Mulud selesai, penanggalan memasuki Bakda Mulud.
Pada beberapa sumber, nama bulan ini juga dapat ditulis dengan variasi ejaan. Namun, maksudnya tetap menunjuk pada bulan keempat dalam urutan penanggalan Jawa.
5. Jumadilawal
Jumadilawal merupakan bulan kelima dalam tahun Jawa. Nama ini berkaitan langsung dengan Jumadilawal dalam kalender Hijriah.
Penulisan Jumadil Awal bulan Jawa dapat dibuat terpisah maupun digabung menjadi Jumadilawal. Kedua bentuk tersebut masih sering ditemukan dalam tulisan masyarakat.
Bulan ini berada setelah Bakda Mulud dan sebelum Jumadilakir. Penyebutannya tidak mengalami perubahan sebesar beberapa nama bulan lainnya.
6. Jumadilakir
Jumadilakir merupakan bulan keenam dalam Kalender Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Jumadilakhir dalam penanggalan Hijriah.
Kata akir merupakan bentuk pengucapan Jawa dari kata akhir. Oleh karena itu, nama bulan ini juga sering ditulis sebagai Jumadil Akhir.
Jumadilakir berada setelah Jumadilawal. Keduanya menjadi dua bulan yang letaknya berurutan dalam penanggalan Jawa maupun Hijriah.
7. Rejeb
Rejeb adalah bulan ketujuh dalam tahun Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Rajab dalam kalender Hijriah.
Perubahan dari Rajab menjadi Rejeb menunjukkan penyesuaian pengucapan dalam bahasa Jawa. Bentuk Rejeb masih banyak digunakan dalam percakapan dan kalender tradisional.
Di lingkungan masyarakat Muslim, bulan ini juga dikenal melalui kegiatan keagamaan tertentu. Namun, artikel tentang nama bulan cukup memahami Rejeb sebagai bulan ketujuh dalam urutan penanggalan Jawa.
8. Ruwah
Ruwah merupakan bulan kedelapan dalam Kalender Jawa dan berkaitan dengan Syakban.
Bulan Ruwah berada tepat sebelum Pasa. Karena itu, sebagian masyarakat mengenalnya sebagai masa persiapan menjelang Ramadan.
Di sejumlah daerah terdapat tradisi keluarga, ziarah, doa bersama, atau kegiatan lain pada bulan Ruwah. Nama serta cara pelaksanaannya dapat berbeda menurut daerah.
Tradisi tersebut merupakan kebiasaan masyarakat dan tidak selalu dijalankan oleh semua keluarga. Pelaksanaannya juga tidak boleh langsung dianggap sebagai kewajiban agama.
9. Pasa
Pasa adalah bulan kesembilan dalam Kalender Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Ramadan.
Nama bulan Jawa yang berhubungan dengan Ramadan adalah Pasa. Dalam pengucapan Jawa sehari-hari, Pasa juga sering disebut Poso.
Nama Pasa berkaitan dengan kegiatan berpuasa. Pada bulan ini, masyarakat Muslim menjalankan puasa Ramadan.
Karena kedekatannya dengan kegiatan puasa, nama Pasa lebih mudah diingat oleh banyak orang. Bulan ini berada setelah Ruwah dan sebelum Sawal.
10. Sawal
Sawal merupakan bulan kesepuluh dalam Kalender Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Syawal.
Sawal berada setelah Pasa. Dalam kehidupan masyarakat Muslim, awal Syawal berkaitan dengan perayaan Idulfitri setelah selesainya puasa Ramadan.
Penyebutan Sawal merupakan penyesuaian dari Syawal dalam pengucapan masyarakat Jawa. Nama ini masih banyak ditemukan dalam kalender dan percakapan keluarga.
11. Dulkangidah
Dulkangidah merupakan bulan kesebelas dalam penanggalan Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Zulkaidah.
Nama Dulkangidah memiliki beberapa variasi ejaan dalam tulisan. Perbedaan tersebut biasanya dipengaruhi oleh cara pengucapan serta kebiasaan penulis kalender.
Bulan ini berada setelah Sawal dan sebelum Besar. Karena penyebutannya cukup panjang, bentuk ejaannya dapat terlihat berbeda pada beberapa sumber.
12. Besar
Besar adalah bulan kedua belas sekaligus bulan terakhir dalam tahun Jawa. Bulan ini berkaitan dengan Zulhijah.
Penyebutan Besar sudah lama dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa. Setelah bulan ini selesai, penanggalan memasuki Sura sebagai awal tahun berikutnya.
Di beberapa keluarga, bulan Besar juga dipertimbangkan ketika merencanakan kegiatan tertentu. Namun, pandangan dan kebiasaan tersebut tidak sama pada setiap keluarga.
Nama Besar tidak berarti bahwa seluruh kegiatan pada bulan tersebut pasti lebih baik dibandingkan bulan lainnya. Penentuan acara tetap bergantung pada kesiapan dan kesepakatan keluarga.
Urutan Bulan Jawa dan Islam
Nama bulan Jawa memiliki hubungan yang dekat dengan urutan bulan Hijriah. Berikut perbandingan sederhananya.
| Bulan Jawa | Bulan Hijriah |
|---|---|
| Sura | Muharam |
| Sapar | Safar |
| Mulud | Rabiulawal |
| Bakda Mulud | Rabiulakhir |
| Jumadilawal | Jumadilawal |
| Jumadilakir | Jumadilakhir |
| Rejeb | Rajab |
| Ruwah | Syakban |
| Pasa | Ramadan |
| Sawal | Syawal |
| Dulkangidah | Zulkaidah |
| Besar | Zulhijah |
Perbandingan tersebut membantu pembaca memahami nama bulan Jawa dan Islam. Beberapa nama tetap sangat mirip, sedangkan nama lainnya berkembang menjadi penyebutan khas Jawa.
Sura, misalnya, berkaitan dengan Muharam. Mulud berkaitan dengan Rabiulawal, sedangkan Pasa berkaitan dengan Ramadan.
Meskipun urutannya memiliki hubungan erat, Kalender Jawa dan kalender Hijriah tidak sepenuhnya sama. Keduanya mempunyai angka tahun dan ketentuan penanggalan masing-masing.
Karena itu, Kalender Jawa tidak tepat disebut sekadar kalender Hijriah dengan nama berbeda.
Apakah Bulan Jawa Sama dengan Bulan Nasional?
Bulan Jawa tidak sama dengan bulan nasional atau bulan Masehi.
Bulan nasional terdiri dari Januari, Februari, Maret, hingga Desember. Kalender tersebut digunakan dalam sekolah, pekerjaan, dokumen resmi, administrasi, dan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, bulan Jawa dimulai dari Sura dan berakhir pada Besar. Penanggalan ini digunakan dalam kebudayaan Jawa, pencatatan weton, peringatan keluarga, serta berbagai kegiatan tradisional.
Bulan Jawa tidak dapat dipasangkan secara tetap dengan bulan Masehi. Artinya, tidak benar apabila Sura selalu dianggap Januari, Sapar selalu dianggap Februari, dan seterusnya.
Awal sebuah bulan Jawa dapat jatuh pada pertengahan bulan Masehi. Akhirnya kemudian berada pada bulan Masehi berikutnya.
Letak bulan Jawa terhadap kalender Masehi juga bergeser dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena keduanya menggunakan dasar penanggalan yang berbeda.
Karena itu, pembahasan nama bulan Jawa dan nasional sebaiknya tidak dibuat dalam bentuk pasangan tetap. Perbandingan yang lebih tepat adalah melihat tanggal Masehi yang bertepatan dengan awal dan akhir bulan Jawa pada tahun tertentu.
Bagaimana Urutan Bulan Jawa pada Tahun 2026?
Urutan bulan Jawa pada tahun 2026 tetap sama dengan tahun lainnya, yaitu:
- Sura
- Sapar
- Mulud
- Bakda Mulud
- Jumadilawal
- Jumadilakir
- Rejeb
- Ruwah
- Pasa
- Sawal
- Dulkangidah
- Besar
Jadi, istilah urutan bulan Jawa 2026 tidak berarti nama atau susunannya berubah. Perubahan hanya terjadi pada tanggal Masehi yang bertepatan dengan awal dan akhir setiap bulan Jawa.
Sebagai contoh, awal Sura pada satu tahun dapat jatuh pada bulan Masehi yang berbeda dibandingkan tahun lainnya. Hal yang sama berlaku untuk Mulud, Pasa, Besar, dan bulan-bulan lain.
Susunan tanggal berdasarkan waktu yang dipilih dapat dicocokkan melalui tanggalan Jawa bulan ini, termasuk hari, pasaran, dan keterangan penanggalan yang menyertainya.
Sekarang Bulan Jawa Apa?
Jawaban atas pertanyaan “sekarang bulan Jawa apa?” selalu mengikuti tanggal ketika pencarian dilakukan.
Karena bulan Jawa tidak tetap berada pada bulan Masehi tertentu, nama bulan yang sedang berjalan perlu diperiksa berdasarkan tanggal hari ini.
Untuk mengetahui nama bulan Jawa sekarang, cocokkan tanggal melalui kalender Jawa online agar tanggal Jawa, bulan, hari, dan pasarannya dapat dibaca bersama.
Cara ini lebih tepat daripada mengandalkan artikel lama atau daftar tahun sebelumnya. Informasi bulan yang berlaku pada tahun lalu belum tentu sesuai untuk tanggal sekarang.
Hubungan Bulan Jawa dengan Weton
Bulan Jawa dan weton merupakan dua bagian yang berbeda dalam Kalender Jawa.
Bulan Jawa menunjukkan pembagian waktu dalam satu tahun. Sementara itu, weton menunjukkan gabungan antara hari biasa dan pasaran pada sebuah tanggal.
Contohnya, seseorang dapat lahir pada bulan Sura. Namun, weton kelahirannya dapat berupa Senin Legi, Rabu Pon, Kamis Wage, atau gabungan lainnya.
Dua orang yang lahir dalam bulan Jawa yang sama belum tentu memiliki weton yang sama. Hari dan pasaran mereka bergantung pada tanggal kelahiran masing-masing.
Gabungan hari dan pasaran yang sedang berlangsung dapat diketahui melalui weton hari ini.
Cara Mengetahui Weton dari Tanggal Lahir
Mengetahui bulan Jawa kelahiran belum cukup untuk menentukan weton seseorang.
Weton membutuhkan tiga data penting:
- Tanggal lahir.
- Bulan lahir.
- Tahun lahir.
Dari tanggal lengkap tersebut, hari biasa dan pasarannya dapat diketahui. Keduanya kemudian digabungkan menjadi weton.
Sebagai contoh, apabila sebuah tanggal lahir jatuh pada Senin dan pasarannya Legi, wetonnya adalah Senin Legi.
Pembaca yang belum mengetahui hari pasarannya dapat melakukan cek weton berdasarkan tanggal lahir dengan memasukkan data kelahiran secara lengkap dan benar.
Kesalahan memasukkan tanggal, bulan, atau tahun dapat menghasilkan weton yang berbeda. Karena itu, periksa kembali data sebelum membaca hasilnya.
Apa Hubungan Bulan Jawa dengan Primbon?
Kalender Jawa dan primbon sering dibahas bersama, tetapi keduanya mempunyai fungsi berbeda.
Kalender Jawa merupakan sistem penanggalan. Di dalamnya terdapat hari, pasaran, weton, tanggal, bulan, dan tahun Jawa.
Primbon memuat berbagai catatan, hitungan, penafsiran, serta pengetahuan tradisional yang berkembang di masyarakat Jawa.
Informasi mengenai bulan, hari, pasaran, dan weton dapat digunakan dalam pembahasan primbon. Namun, hasil penafsirannya tidak sebaiknya dianggap sebagai kepastian mutlak mengenai masa depan.
Pembaca yang ingin mengenal pembahasan tersebut lebih lanjut dapat menggunakan cek primbon Jawa sebagai bahan untuk memahami tradisi, bukan sebagai penentu mutlak kehidupan.
Apa yang Dimaksud Nama Tahun Jawa?
Selain memiliki nama bulan, Kalender Jawa juga mengenal nama tahun dalam siklus tertentu.
Nama tahun Jawa berbeda dari nama bulan Jawa. Bulan digunakan untuk membagi satu tahun menjadi dua belas bagian, sedangkan nama tahun digunakan untuk menandai bagian dalam putaran tahun.
Pembahasan tersebut cukup luas karena berkaitan dengan siklus tahun dan windu. Oleh sebab itu, nama tahun Jawa lebih baik dijelaskan secara khusus dalam artikel tersendiri.
Hal yang perlu dipahami dalam artikel ini adalah bahwa nama tahun dan nama bulan bukan hal yang sama.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memahami Bulan Jawa
Beberapa kesalahan berikut sering terjadi ketika seseorang baru mengenal urutan bulan Jawa.
Menganggap bulan Jawa sama dengan bulan Masehi
Kalender Jawa dan Masehi memakai susunan serta dasar perhitungan yang berbeda.
Karena itu, awal dan akhir bulan Jawa tidak selalu sama dengan awal dan akhir bulan Masehi.
Memasangkan Sura dengan Januari secara tetap
Sura tidak selalu jatuh pada Januari. Awal Sura dapat berada pada bulan Masehi yang berbeda bergantung pada tahunnya.
Pemasangan seperti Sura sama dengan Januari atau Sapar sama dengan Februari sebaiknya dihindari.
Mengira Kalender Jawa dan Hijriah sepenuhnya sama
Kalender Jawa memiliki hubungan erat dengan kalender Hijriah, terutama dalam susunan bulan.
Namun, keduanya mempunyai angka tahun, sejarah, dan ketentuan penanggalan tersendiri.
Menganggap Pasa dan Ramadan sebagai dua waktu berbeda
Pasa merupakan nama bulan Jawa yang berkaitan dengan Ramadan.
Dalam percakapan Jawa, Pasa juga sering diucapkan Poso. Keduanya menunjuk pada bulan pelaksanaan puasa Ramadan.
Salah memahami weton sebagai nama bulan
Weton bukan nama bulan.
Weton adalah gabungan hari biasa dan pasaran, seperti Senin Legi, Rabu Pon, atau Jumat Kliwon.
Menganggap satu bulan selalu baik atau buruk
Tidak ada satu nama bulan yang dapat memastikan keberuntungan atau kesialan seseorang.
Penafsiran budaya dapat berbeda antara satu keluarga dan keluarga lainnya. Nama bulan tidak seharusnya digunakan untuk menakut-nakuti orang.
Menggunakan daftar lama untuk menjawab bulan Jawa sekarang
Bulan Jawa yang sedang berlangsung perlu diperiksa berdasarkan tanggal saat ini.
Daftar dari tahun sebelumnya dapat memberikan hasil yang tidak sesuai apabila digunakan untuk menjawab keadaan hari ini.
Mengapa Nama Bulan Jawa Perlu Dikenal?
Nama bulan Jawa masih digunakan dalam percakapan, tradisi keluarga, peringatan budaya, dan berbagai kegiatan masyarakat.
Dengan mengenal urutannya, generasi muda akan lebih mudah memahami istilah yang digunakan oleh orang tua maupun kakek-nenek.
Istilah seperti Sura, Mulud, Ruwah, Pasa, dan Besar masih sering muncul dalam cerita keluarga, pengumuman kegiatan, serta pembicaraan mengenai tradisi.
Mengenal nama bulan juga membantu pembaca memahami hubungan antara Kalender Jawa, Hijriah, hari pasaran, dan weton.
“Wanci lumampah, kabudayan prayogi tetep dipun uri-uri.”
Artinya, waktu terus berjalan, tetapi kebudayaan sebaiknya tetap dilestarikan.
Melestarikan budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Kita dapat memulainya dengan mempelajari nama-nama bulan, mencatat urutannya, dan menjelaskannya kembali menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa saja nama bulan Jawa secara urut?
Urutan nama bulan Jawa adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar.
Ada berapa bulan dalam Kalender Jawa?
Dalam satu tahun Jawa terdapat dua belas bulan. Tahun dimulai dari Sura dan berakhir pada Besar.
Apa nama bulan Jawa untuk Ramadan?
Nama bulan Jawa yang berhubungan dengan Ramadan adalah Pasa. Dalam pengucapan sehari-hari, Pasa juga sering disebut Poso.
Apakah bulan Jawa sama dengan bulan Islam?
Keduanya mempunyai hubungan yang erat, terutama dalam urutan bulan. Namun, Kalender Jawa dan Hijriah tidak sepenuhnya sama karena memiliki angka tahun dan ketentuan penanggalan masing-masing.
Sekarang bulan Jawa apa?
Nama bulan Jawa yang sedang berlangsung perlu diperiksa berdasarkan tanggal saat ini. Bulan Jawa tidak selalu berada pada bulan Masehi yang sama setiap tahun.
Apakah bulan Sura sama dengan Januari?
Tidak. Sura tidak selalu bertepatan dengan Januari karena Kalender Jawa dan Masehi menggunakan dasar penanggalan yang berbeda.
Penutup
Ada dua belas nama bulan Jawa dalam setahun, yaitu:
- Sura
- Sapar
- Mulud
- Bakda Mulud
- Jumadilawal
- Jumadilakir
- Rejeb
- Ruwah
- Pasa
- Sawal
- Dulkangidah
- Besar
Urutan tersebut tetap sama setiap tahun. Yang berubah adalah tanggal Masehi yang bertepatan dengan awal dan akhir masing-masing bulan.
Nama bulan Jawa juga memiliki hubungan yang dekat dengan bulan Hijriah. Sura berkaitan dengan Muharam, Mulud dengan Rabiulawal, Pasa dengan Ramadan, dan Besar dengan Zulhijah.
Meskipun demikian, bulan Jawa tidak dapat dipasangkan secara tetap dengan Januari sampai Desember. Letaknya terhadap kalender Masehi bergeser dari tahun ke tahun.
Dengan memahami nama bulan Jawa dan artinya, pembaca dapat lebih mudah mengenali penanggalan, tradisi keluarga, serta istilah budaya yang masih digunakan sampai sekarang.


